Langsung ke konten utama

Kiai Muqsith Idris, Wafat pada Usia 90 Tahun

 


Tiba-tiba beredar kabar, K.H. Muqsith Idris–salah satu pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Latee–telah berpulang ke Haribaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau dipanggil pulang menghadap-Nya pada usia genap 90 tahun. Tentu, ini hitungan usia yang tidak pendek. Saat saya awal nyantri di Latee, masuk sekitar tahun 1992, K.H. Muqsith Idris berarti sudah menginjak usia 57 tahun. 

Pada usia saya saat ini 45 tahun, beliau wafat. Sungguh, sebuah rentang waktu sangat panjang. Demikianlah, waktu berjalan dan berputar cepat. Bagi santri yang lulus dari Annuqayah tahun 1998, berarti 27 tahun yang silam, kita semua sebagai santri sering bertatap muka dengan beliau. Sesekali beliau melempar senyum, saat berpapasan dengan santri. Kita sebagai santri terbiasa merespon, dengan tradisi menundukkan kepala, sebagai wujud rasa hormat dan ta’dzim pada sang kiai.


Jika dihitung dari usia remaja, sejak kelahiran beliau 1935, beliau telah mengabdi di pesantren, sekitar–kurang lebih–60 tahun. Cukup panjang dedikasi beliau untuk sebuah perjuangan di dunia pendidikan pesantren. Sehari-hari, beliau menghabiskan rutinitasnya hanya berinteraksi dengan santri. Mengasuh dan menjadi pilar moral santri dan masyarakat. Tentu, hal ini bukan tugas ringan, dan mudah dijalani. Tidak semua di antara kita mampu mengemban tugas mulia itu, dengan penuh istiqomah.


Beliau wafat, tepat malam tanggal 15 nisfu sya’ban, tahun 1446 hijriyah, bertepatan dengan Kamis 13 Februari 2025 Masehi. Bulan itu merupakan bulan laporan amal. Pun malam mulia, karena bertepatan dengan malam sayyidul ayyam, malam jumat. Dilihat dari sisi momentum wafat beliau, insya Allah beliau tercatat sebagai sosok hamba Allah yang chusnul khotimah. Jasa-jasa beliau sungguh menjadi saksi amal sholehnya. Pengabdiannya suci, perjuangannya sejati, dan napak tilasnya benar-benar menjadi rekam jejak yang patut diteladani.


Duka mendalam sangat terasa. Guluk-guluk kehilangan sosok figur kiai sepuh yang kesekian kalinya, sebagai panutan dan “sokoguru” moral dan keteladanan utama. Zaman berputar dan bergerak tiada henti. Akhir zaman pun semakin dekat. Hanya hamba-hamba yang beriman yang menyadari tanda-tanda zaman akhir itu. Seorang Kiai atau pemuka agama yang mengazamkan diri, mengabdi di tengah masyarakat dengan ilmunya yang mendalam, akhir-akhir ini terasa semakin langka, karena tantangan dan godaannya memang berat.


Pantas jika Nabi bersabda,Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan” (HR Bukhari).


Bersyukur kita sebagai alumni Annuqayah, pernah nyantri untuk memperoleh tetesan ilmu para kiai. Kita mengamalkan ilmu itu di tengah masyarakat, apapun perannya. Hal itu, semata-mata sebagai amanah Sang Kiai untuk menebar kebermanfaatan. Insya Allah nilai manfaat yang kita lakukan, akan terus menjadi jalan mengalirnya amal-amal kebaikan para kiai Pondok Pesantren Annuqayah di alam barzakh sana. 


Hal ini juga menyadarkan kita semua, betapa penting menjaga “mata rantai” kebaikan terus berkesinambungan. Betapa penting pula kita menyadari, bahwa teladan utama harus saling kita junjung tinggi. Para kiai yang telah mendahului kita, akan semakin harum dan bersinar, jika kita sebagai alumni dapat menjadi penerus perjuangannya. Semua itu, supaya terbentuk tali ikat nilai kebermanfaatan yang terus hidup di tengah masyarakat. Selamat jalan Kiai Muqsith Idris, ajunan pantas menjadi hamba Allah yang kelak akan dimuliakan di surga-Nya. Amien.


Oleh Muhammad Zaini, Santri Annuqayah Latee, Guluk-guluk Semenep, Angkatan 1998.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengembalikan Peran Guru Sebagai Pendidik

Salah satu tugas guru adalah menghadirkan pembelajaran yang efektif sesuai dengan kondisi dan situasi siswa. Penyajian pembelajaran, disamping mencerdaskan otak, ia juga harus merangsang sisi kreativitas siswa. Pembelajaran yang menjadi tugas utama guru pada setiap jenjang satuan pendidikan harus merujuk pada Undang-undang guru sebagai pendidik profesional, dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi . Guru sebagai pendidik profesional merupakan amanah Undang-undang yang harus dijalankan dengan baik dan optimal. Dalam kaitan ini, guru dituntut benar-benar fokus pada pemenuhan tugas utamanya, sehingga siswa dapat mencapai hasil maksimal dalam ruang pembelajaran yang menyenangkan. Guru harus mampu menyusun alur pembelajaran dengan tepat, sistematis dan menggugah siswa untuk memiliki kemauan belajar yang tinggi. Secara normatif, guru harus berupaya menyerap aturan pembelajaran dengan merujuk pada kebijakan pemerintah. Dalam turunan pe...

Meretas Makna Ramadhan di Tengah Disparitas Sosial

  Ramadhan merupakan ibadah istimewa yang hadir setiap tahun menemui hamba-hamba yang beriman. Keistimewaannya mencakup berbagai aspek, meliputi aspek spritual, sosial dan moral. Ramadhan juga meniscayakan keberkahan yang berlimpah ampunan, dan semua umat Islam terdorong mengupayakan peningkatan amal sholeh yang nilainya berlipat ganda di hadapan Allah Yang Maha Kuasa. Umat Islam dengan berbagai level keimanan, diwajibkan berpuasa di bulan Ramdhan. Perintahnya ditegaskan di dalam Q.S. Al-Baqarah 183 sebagai landasan kewajiban menjalani ibadah puasa. Kewajiban itu harus ditaati sebagai bukti keimanan, yang tujuan puncaknya membentuk pribadi bertakwa sebagai penyematan predikat mulia yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan menggapai derajat takwa, manusia dapat menjadi pribadi suci yang ditandai dengan gugurnya setiap dosa dan kesalahan. Dalam konteks ini, puasa seperti disabdakan oleh nabi, akan berfungsi sebagai perisai (junnah) , yaitu benteng dari berbagai bentuk pote...